Oleh: dkkmedan | Mei 12, 2008

I S P A

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT

Penyakit infeksi masih termasuk penyebab kemaian balita di Indonesia. Angka Kematian Bayi (AKB) saat ini masih tinggi; 52 per 1.000 kelahiran hidup dalam setahun. Tetapi angka 52 merupakan AKB yang cukup menurun dibandingkan dengan pada tahun 1970 dengan AKB 145. Penurunan ini merupakan hasil dari program imunisasi secara gratis dari pemerintah. Program Imunisasi meliputi BCG (anti tuberculosis), tetanus, polio, campak, diptheri (anti infeksi saluran pernafasan), pertusis (anti batuk rejan) dan hepatitis B, serta didukung pemberian gizi cukup, seperti ASI, makanan bervitamin dan buah-buahan.

ISPA sendiri sempat dijuluki sebagai pembunuh utama kematian bayi serta balita di Indonesia. Hal ini merujuk pada hasil Konferensi Internasional mengenai ISPA di Canberra, Australia, pada Juli 1997, yang menemukan empat juta bayi dan balita di negara-negara berkembang meninggal tiap tahun akibat ISPA.Pada akhir 2000, diperkirakan kematian akibat Pneumonia sebagai penyebab utama ISPA, di Indonesia mencapai lima kasus diantara 1.000 bayi/balita. Artinya, Pneumonia mengakibatkan 150 ribu bayi atau balita meninggal tiap tahunnya, atau 12.500 korban per bulan , atau 416 kasus sehari, atau 17 anak per jam, atau seorang bayi tiap lima menit.


ISPA ( infeksi saluran pernafasan akut ) yang diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI) mempunyai pengertian sebagai berikut :

– Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

– Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksa beserta sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract).

– Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun unuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus.

Pneumonia

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.

Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk, kesukaran bernafas, nafas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.

Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia sangat berat dengan gejala batuk, kesukaran bernafas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, Pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih atau disertai penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.

Klasifikasi bukan Pneumonia mencakup balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar Pneumonia ini antara lain : batuk-pilek biasa (commond cold), pharyngitis, tonsillitis dan otitis.

Diagnosis etiologi Pneumonia pada balita sulit untuk ditegakkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pneumonia. Hanya biakan specimen fungsi atau aspirasi paru serta pemeriksaan specimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pneumonia. Dinegara berkembang terutama Indonesia berdasarkan penelitian asing (menurut publikasi WHO) bakteri penyebab Pneumonia bagi balita adalah Streptokokus, Pneumonia dan Hemophylus Influenzae. Dinegara maju Pneumonia pada balita disebabkan oleh virus.

Jelas, umur di bawah dua bulan rentan terhadap serangan Pneumonia dengan factor resiko seperti ; jenis kelamin laki-laki, gizi kurang, berat bayi lahir rendah, tidak mendapat ASI memadai, polusi udara, tempat tingal padat, imunisasi yang tidak memadai, dan defisiensi vitamin A.

Sementara itu, faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pneumonia adalah umur di bawah dua bulan, rendahnya tingkat sosio-ekonomi, kurang gizi, rendahnya berat badan saat lahir, rendahnya tingkat pendidikan ibu, rendahnya tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan, padatnya tempat tinggal, imunisasi yang tidak memadai dan menderita penyakit kronis.

Created By

Dr. Hj. Anni Mariani


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: